Pemimpin

•4 May, 2011 • Leave a Comment

Tanyakan seperti apa mobil dinas mewah pada tandu reot itu.

Tanyakan bagaimana fasilitas kesehatan pada paru-parunya yang tinggal sebelah.

Tanyakan arti lembur pada waktu yang ia lewatkan saat gerilya.

Tanyakan berapa gaji yang ia terima.

Tanyakan apa yang diharapkan dari seorang pemimpin pada rakyat jelata yang memikul dan setia menemani perang gerilya bersamanya tanpa imbalan apapun.

Tanyakan arti jabatan pada Jenderal Pertama dan Jenderal Termuda yang dimiliki bangsa ini.

Soedirman, seorang pemimpin dalam arti yang sebenarnya.

3 Jenis Muslim

•24 April, 2011 • Leave a Comment

Ummat muslim di zaman ini secara sederhana dapat dibagi menjadi 3 kelompok :

1. Muslim Musiman
Muslim yang beribadah hanya karena banyak orang lain yang melakukannya, dan hanya ikut-ikutan pada saat-saat tertentu saja.

2. Muslim Musingin
Muslim yang sibuk mengatur-atur yang lain sementara dirinya sendiri belum baik.

3. Muslim Muttaqien
Muslim yang beribadah sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Menjalankan ibadah sebaik mungkin dengan kesadaran dan hanya karena Allah.

Allahu A’lam

Ngaca dulu ah diri ini termasuk dalam muslim yang mana…?

Menyertakan Jiwa Dalam Perbuatan

•23 April, 2011 • Leave a Comment

Untuk menyambung artikel sebelumnya yang terdapat bahasan tentang ‘niat yang sia-sia karena tidak ada usaha untuk mewujudkannya’, maka saya coba tuliskan sebuah artikel yg didalamnya terdapat bahasan mengenai ‘niat yang justru berpahala besar meski tidak diikuti perbuatan’.

Alkisah, ada seseorang yang diundang menghadiri perjamuan. Perjamuan ini dibuat untuk kalangan atas. Hadirlah orang itu dengan pakaian sederhana. Namun jangankan dijamu, saat berada di pintu saja ia sudah dihalangi oleh pelayan dan dilarang masuk. Lalu pulanglah orang itu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baik dan mewah.

Lalu ia kembali ke perjamuan tadi. Apa yang terjadi? Luar biasa, dia disambut dan dilayani dengan sangat baik. Saat tiba waktu makan, orang tadi tidak memakan hidangan yang telah disediakan tetapi malah memasukkan makanan tersebut ke kantong-kantong baju dan celananya. Sang pelayan heran lalu bertanya mengapa ia melakukan hal tersebut. Orang itu menjawab, “Bagaimana aku bisa memakannya sedangkan makanan ini dihidangkan untuk pakaianku, bukan untukku.”

Ya, begitulah manusia. Menilai sesuatu hanya sebatas dari apa yang nampak olehnya. Tetapi tidak dengan Allah. Apa yang ia nilai tidak sebatas sesuatu yang tampak di hadapan manusia. Allah melihat jauh ke dalam qolbu (hati) manusia. Termasuk dalam ibadah yang selama ini kita lakukan.

Marilah kita melihat ibadah-ibadah yang telah kita lakukan selama ini. Apakah ibadah kita hanya sebatas ibadah fisik/jasad, ataukah ibadah kita telah disertai dengan ibadah hati/qolbu. Allah tidak melihat seperti apa wujudmu, bagaimana rupamu, dan seberapa tinggi derajadmu. Tetapi Allah melihat seberapa ikhlas kita dalam beribadah dan bagaimana kita menyertakan qolbu kita dalam ibadah.

Bisa jadi orang yang terlihat ‘biasa’ di hadapan kita, ternyata memiliki kualitas yang luar biasa di hadapan Allah. Maka janganlah kita terjebak dengan pakaian dunia.

Pada suatu saat menjelang peperangan yang diperintahkan Rasulullah SAW, ada seseorang yang hendak ikut berjihad.

Dia menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasul, aku ingin sekali ikut berjihad bersama mereka, tetapi aku tak memiliki bekal ataupun persenjataan yang bisa aku bawa.”

Rasullullah SAW menjawab, “Aku pun tak punya sesuatu yang bisa aku berikan untukmu (bekal dan persenjataan) agar kamu bisa ikut berjihad.”

Lalu orang tersebut berbalik. Dia sangat sedih hingga menitikkan air mata, karena dia tidak memiliki kemampuan, sehingga dia tidak dapat ikut pergi berjihad.

Namun apakah kalian tahu bahwa Allah telah mencatat pahala untuk orang itu yang besarnya sama dengan pahala bagi mereka yang pergi berjihad? Subhanallah, Allahuakbar. Allah tidak hanya melihat ibadah hanya secara fisiknya saja. Tetapi lebih dari itu, Allah melihat apa yang ada di hati hambanya. Niat yang kuat dan keikhlasan qolbu memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah.

Semoga kita dapat menyertakan hati kita ini dalam setiap ibadah yang kita lakukan, dan semoga kita tidak terjebak dalam rutinitas ibadah fisik/jasad semata. Luruskan niat dan ikhlaskan hati.

Allahu A’lam

Banyak Amalan Namun Tak Ada Artinya

•22 April, 2011 • 2 Comments

Perumpamaan orang yang riya’ dalam beramal, bagaikan seseorang. Ia keluar dari pasar. Lalu dia mengisi kantong bajunya dengan batu-batu. Orang-orang merasa kagum dan heran melihat betapa banyak orang tersebut membawa sesuatu dalam kantongnya. Orang-orang berpikir alangkah banyak uang di kantongnya. Tetapi itu semua tiadalah berguna. Karena isi kantongnya tak dapat dibelikan apa-apa. Yang ia dapatkan hanyalah pujian belaka.

naudzubillah

“Barang siapa yang melakukan tujuh hal namun tidak disertai tujuh hal lainnya, maka amalnya tidak akan ada artinya”. Ketujuh hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Orang yang berkata aku takut siksa Allah, tapi dia tidak berhenti berbuat dosa/maksiat.
2. Orang yang berkata aku berharap pahala Allah, tapi tidak melakukan kebaikan dan amal sholeh.
3. Orang yang punya niat, namun tidak mengamalkannya.
4. Orang yang berdoa, tapi tidak pernah berusaha.
5. Orang yang beristigfar, tapi tidak disertai dengan rasa penyesalan untuk tidak mengulangi dosa.
6. Orang yang kalau bicara baik dan menyenangkan, tetapi tidak seperti itu di hatinya.
7. Orang yang bekerja keras, tapi tidak disertai keikhlasan. Maka pekerjaannya sia-sia dan tidak ada manfaatnya.

PS : Ada masukan dari pembaca untuk point yang ke-3. Silahkan baca comment di bawah ya. Supaya jelas maksud / konteks dari “niat yang sia-sia” :)

Kisah Taubat dan Sepotong Roti

•20 April, 2011 • Leave a Comment

Dahulu kala ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ia melakukan ibadah selama kurang lebih 70 tahun dan tidak pernah meninggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita. Dia pun tergoda dalam bujuk rayu wanita tadi dan bergelimang dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sadar, ia lalu bertaubat. Ia meninggalkan tempat ibadahnya kemudian melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.

Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin. Lelaki tadi bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.

Saat malam tiba, datanglah orang yang yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut. Lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bahagian, karena disangka sebagai orang miskin.

Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bahagian dari orang yang membahagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membahagikan roti itu ia berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku?”

Orang yang membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari sepotong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bahagian tadi.

Ternyata pada keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam.

Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan amal sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Allah a’lam. Maha besar Allah.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.