Untuk menyambung artikel sebelumnya yang terdapat bahasan tentang ‘niat yang sia-sia karena tidak ada usaha untuk mewujudkannya’, maka saya coba tuliskan sebuah artikel yg didalamnya terdapat bahasan mengenai ‘niat yang justru berpahala besar meski tidak diikuti perbuatan’.
Alkisah, ada seseorang yang diundang menghadiri perjamuan. Perjamuan ini dibuat untuk kalangan atas. Hadirlah orang itu dengan pakaian sederhana. Namun jangankan dijamu, saat berada di pintu saja ia sudah dihalangi oleh pelayan dan dilarang masuk. Lalu pulanglah orang itu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baik dan mewah.
Lalu ia kembali ke perjamuan tadi. Apa yang terjadi? Luar biasa, dia disambut dan dilayani dengan sangat baik. Saat tiba waktu makan, orang tadi tidak memakan hidangan yang telah disediakan tetapi malah memasukkan makanan tersebut ke kantong-kantong baju dan celananya. Sang pelayan heran lalu bertanya mengapa ia melakukan hal tersebut. Orang itu menjawab, “Bagaimana aku bisa memakannya sedangkan makanan ini dihidangkan untuk pakaianku, bukan untukku.”
Ya, begitulah manusia. Menilai sesuatu hanya sebatas dari apa yang nampak olehnya. Tetapi tidak dengan Allah. Apa yang ia nilai tidak sebatas sesuatu yang tampak di hadapan manusia. Allah melihat jauh ke dalam qolbu (hati) manusia. Termasuk dalam ibadah yang selama ini kita lakukan.
Marilah kita melihat ibadah-ibadah yang telah kita lakukan selama ini. Apakah ibadah kita hanya sebatas ibadah fisik/jasad, ataukah ibadah kita telah disertai dengan ibadah hati/qolbu. Allah tidak melihat seperti apa wujudmu, bagaimana rupamu, dan seberapa tinggi derajadmu. Tetapi Allah melihat seberapa ikhlas kita dalam beribadah dan bagaimana kita menyertakan qolbu kita dalam ibadah.
Bisa jadi orang yang terlihat ‘biasa’ di hadapan kita, ternyata memiliki kualitas yang luar biasa di hadapan Allah. Maka janganlah kita terjebak dengan pakaian dunia.
Pada suatu saat menjelang peperangan yang diperintahkan Rasulullah SAW, ada seseorang yang hendak ikut berjihad.
Dia menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasul, aku ingin sekali ikut berjihad bersama mereka, tetapi aku tak memiliki bekal ataupun persenjataan yang bisa aku bawa.”
Rasullullah SAW menjawab, “Aku pun tak punya sesuatu yang bisa aku berikan untukmu (bekal dan persenjataan) agar kamu bisa ikut berjihad.”
Lalu orang tersebut berbalik. Dia sangat sedih hingga menitikkan air mata, karena dia tidak memiliki kemampuan, sehingga dia tidak dapat ikut pergi berjihad.
Namun apakah kalian tahu bahwa Allah telah mencatat pahala untuk orang itu yang besarnya sama dengan pahala bagi mereka yang pergi berjihad? Subhanallah, Allahuakbar. Allah tidak hanya melihat ibadah hanya secara fisiknya saja. Tetapi lebih dari itu, Allah melihat apa yang ada di hati hambanya. Niat yang kuat dan keikhlasan qolbu memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah.
Semoga kita dapat menyertakan hati kita ini dalam setiap ibadah yang kita lakukan, dan semoga kita tidak terjebak dalam rutinitas ibadah fisik/jasad semata. Luruskan niat dan ikhlaskan hati.
Allahu A’lam
Posted in Uncategorized
Recent Comments